Soal Berburu Kuliner

Seperti yang dilakukan sebagian besar warga negara Indonesia saat musim liburan lebaran, kita biasanya pulang kampung untuk berkumpul dengan sanak saudara tercinta. Momen ini juga biasanya kita lengkapi dengan yang satu itu. Maksudnya?

Apalagi kalau bukan hunting kuliner lokal yang biasa kita santap saat kita masih muda belia dulu, dan masing tinggal di kampung halaman. Atau kalau yang nggak punya kampung halaman seperti gw, tapi kebetulan punya istri yang punya kampung halaman, gw jadi bisa menikmati makanan khas atau enak-enak yang jadi andalan daerah kampung halaman istri.

Nah, seperti yang sudah-sudah, setiap tahun, gw dan anak-istri pulang ke Tasikmalaya, kampung halaman istri. Dan pastinya, di sana selain berkeliling-keliling ke rumah saudara, kita juga berkeliling-keliling ke rumah makan. Bakso, terutama. Ya, Tasikmalaya ini bisa dibilang kota seribu bakso. Hampir di setiap sudut, pinggir jalan, kita bisa temukan banyak pedagang bakso yang anehnya, selalu ramai.

Akan tetapi, semakin ke sini, berburu kuliner di Tasik ini sudah semakin kehilangan gregetnya. Apa pasal? Bakso, contohnya.

Yang jadi masalah, bakso yang katanya paling enak, lama-lama kok rasanya biasa aja. Baksonya memang bukan bakso supermarket yang rasanya generik. Baksonya custom made, alias buatan masing-masing pedagangnya. Jadi rasanya beda-beda setiap toko. Tapi belakangan, di mulut gw kok rasanya jadi biasa aja.

Ini terjadi bukan buat bakso pinggiran yang belum punya nama. Bakso beken yang sudah punya reputasi puluhan tahun pun lama-lama rasanya nggak wah lagi di mulut gw. Padahal, gw makannya pun paling setahun sekali.

Masalah berikutnya adalah harga. Lama kelamaan, harga makanan satu porsi di sini sudah kurang masuk akal. Nggak cuma bakso. Makanan pinggir jalan lain pun demikian. Nasi goreng, kupat tahu, bubur ayam, sama aja. Nggak usah ngomong bubur ayam Zaenal yang sangat terkenal itu tapi harga satu porsinya Rp35 ribu (harga tahun 2016) dan bikin gw nggak pernah beli lagi bahkan sampai lebaran kali ini.

Contoh lain, harga nasi goreng petai dan nasi goreng ati-ampela abang-abang kaki lima pinggir jalan yang sempat gw coba. Satu porsinya + teh tawar hangat Rp21 ribu. Sebagai gambaran, dekat rumah di Jakarta, ada nasi goreng tenda kaki lima andalan. Harga satu porsinya Rp25 ribu memang. Tapii, porsi nasinya lebih banyak. Kalau pesan nasi goreng kambing atau nasi goreng seafood, ya kambingnya banyak, seafood-nya juga segambreng. Rasanya juga lebih nendang. Padahal, itu di Jakarta yang katanya serba mahal.

Nah, bakso tadi? Gw makan seporsi bakso babat (yang sudah cukup punya reputasi) harganya 24 ribu. Rasanya? Ya gitu-gitu aja. Porsinya? Yaa nggak istimewa juga. Sebagai gambaran, dekat arah kantor di Jakarta, ada bakso yang lumayan terkenal, harga per porsinya cuma Rp20 ribu. Rasa, ya kurang lebih sama. Porsi, ya sama juga. Tapi ini kan di Jakarta. Masa di Tasik lebih mahal?

Intinya, kayaknya gw udah mulai kehilangan minat untuk berburu kuliner di Tasik secara keseluruhan. Mungkin kapan-kapan mending ke restoran besar sekalian.

Apakah para pedangang tersebut memanfaatkan momen liburan lebaran sehingga mereka menaikkan harga? Masih perlu ditelisik. Tapi yang pasti, gw udah ilfil lah. Sorry.

Iklan

Tentang emmet24son

My Name is Pirman... Si Pirman
Pos ini dipublikasikan di Kuliner dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Soal Berburu Kuliner

  1. Dedew berkata:

    Harganya jadi ngga jauh dari harga Jakarta ya Bang, apa mungkin karena harga lebaran? Hehe

    • emmet24son berkata:

      Betul mbak. Kemungkinan memanfaatkan momen banyaknya yang pulang kampung atau pendatang yang berlibur, mereka naikkan harga. Tapi nggak dibarengi dengan peningkatan kualitas sajian. Apalagi kuantitas 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.