Bunuh Satu Mati Seribu

Posting kali ini agak serius, dan kebalikan dengan pepatah Mati Satu Tumbuh Seribu. Ternyata kita memang tidak boleh main-main dengan nyawa orang. Salah-salah, nggak cuma hidup orang itu yang tuntas, tapi juga bisa jadi hidup banyak orang lainnya jadi suram. Maksudnya?

Hari ini gw sudah jadwalkan mau tambal ban. Mumpung libur dan biar besok-besok nggak usah bawa mobil ke kantor. Mahal cuy.

Setelah cek, gak ada paku. Tapi ban kempes parah. Alhasil, dorong deh ke depan komplek, tempat terakhir tambal ban pagi-pagi sebelom ngantor. Sampe TKP, ternyata si abang tambal ban-nya sedang istirahat makan.

Tunggu punya tunggu, akhirnya datang juga. Setelah dicek, ternyata memang bukan karena paku. Tapi gara-gara ban agak kempes gw tetep pake ituh motor. Alhasil ban dalemnya jadi gak mengembang full dan kelipet dan jadi bocor halus, kalo kata si abang.

Lha, trus, apa hubungannya dengan judul posting di atas?

Cerita punya cerita, ternyata salah satu anak si abang ini adalah karyawan yang kerja di perusahaan bapaknya Mirna. Ingat kasus pembunuhan Mirna via kopi mengandung sianida yang sangat heboh beberapa waktu lalu?

Setelah kasus tersebut, ternyata kemudian perusahaan bapaknya Mirna ini merumahkan sekitar 4 ribu dari sekitar 10 ribu karyawannya (entah benar apa nggak). Gak yakin sih jumlah karyawannya sebanyak ini. Kata Wikipedia sih, memang Edi Darmawan Salihin memiliki beberapa perusahaan, antara lain di bidang pengiriman dokumen penting di Petojo, Jakarta Pusat, dan perusahaan yang bergerak di bidang garmen di Cengkareng, Jakarta Barat. Tapi total 10 ribu karyawan?

Anyway, bukan itu yang mau dibahas.

Saat ini, kata si abang tambal ban, perusahaan milik Edi Darmawan Salihin tersebut goyang. Entah karena bapaknya Mirna ini sudah tidak semangat lagi menjalankan bisnis, entah karena habis-habisan harus membayar jasa pengacara di pengadilan? Si abang pun tidak tahu.

Yang pasti, sebut si abang tambal ban, anaknya terkena PHK karena baru baru 3,5 tahunan kerja. Perusahaan milik Edi Darmawan Salihin itu hanya mempertahankan karyawan yang sudah bekerja di atas 5 tahun. Yang jadi masalah, anak si abang ini bekerja di sana sambil kuliah di Universitas Mercu Buana dan gajinya itu yang dia pakai untuk membayar kuliahnya.

Setelah di-PHK, alhasil si abang tambal ban pun makin pusing 7 keliling mencari uang untuk membiayai kuliah anaknya ini. Sementara anaknya sudah mencoba lamar sana-sini belum dapat. Beberapa terpaksa lowongan gak jadi diambil karena tidak bisa fleksibel dengan jadwal kuliahnya.

Nah, itu baru kasus di satu orang. Dan anak ini masih kuliah.

Kebayang kan, kalau ada karyawan yang sudah bekerja 4 sampai 4,5 tahun dan ikut di-PHK karena belum 5 tahun padahal dia sudah berkeluarga, punya isteri-anak yang harus dihidupi?

Gara-gara ada yang menghilangkan 1 nyawa, ratusan atau mungkin ribuan nyawa ikut terancam hidupnya. Kalo sudah gini, dosa pembunuhannya mungkin berlipat-lipat tuh.

Iklan

Tentang emmet24son

My Name is Pirman... Si Pirman
Pos ini dipublikasikan di Religious dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Bunuh Satu Mati Seribu

  1. Ping balik: Uber Motor Tips dan Review Aplikasinya | Emmet24son's Weblog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s