Papa dan Mama mencintaimu, Nak

Kelopak mata wanita muda itu tiba-tiba terlihat berkaca-kaca. Nampak sekali ia sedang berupaya untuk menahan tetes-tetes air matanya. Namun rasa duka yang memenuhi relung-relung jiwanya membuatnya tak bisa lebih lama lagi menahan air matanya.

Tangis sedih wanita berkerudung itupun meledak. Air matanya mengalir deras membasahi kedua pipi merahnya. Hatinya seperti tertusuk sembilu. Dari dalam sukmanya membuncah rasa gundah. Rasa pedih yang datang mendera tak kunjung pergi menepi. Air mata wanita itu tak jua mereda.

Di tengah isak tangisnya, wanita itu berbisik lirih, “Ustadz Hamy, rasa pedih terasa menyayat hati saat ustadz menjelaskan bahwa tidak ada anak yang bermasalah, yang ada hanyalah anak yang berada di lingkungan yang menimbulkan masalah bagi dia. Tidak ada anak yang nakal, yang ada hanyalah anak yang tidak mengerti bagaimana cara mendapat perhatian orang tuanya. Boleh jadi anak-anak kita gagal melaksanakan apa-apa yang kita perintahkan kepadanya, akan tetapi yakinlah bahwa anak-anak kita akan selalu berhasil meniru apa-apa yang kita lakukan.”

Isak tangis ibu muda berputra satu itu semakin menjadi-jadi saat menguraikan rasa perih yang menyayat jiwanya. Wajah cantiknya terlihat berduka ketika mengungkap lara yang menyelimuti sukmanya.

“Ustadz Hamy memang benar. Anak kami memang jarang mendapatkan waktu kami yang utama. Sebagai dokter, waktu-waktu utama yang saya miliki banyak tersita untuk menangani pasien. Sedang Ayahnya adalah seorang polisi yang berdinas di Malang,” kata wanita itu sambil mencoba menghapus airmata. “Sehingga di masa-masa usia emasnya, anak saya justru jarang mendapatkan waktu-waktu emas orang tuanya,” imbuhnya.

Anak-anak yang bernasib sama dengan anak tersebut di masa usia emasnya tidak sedikit jumlahnya. Saat mereka membutuhkan dekapan mesra sang bunda, mereka hanya mendapatkan pelukan hampa sang pembantu rumah tangga. Ketika mereka memerlukan sosok jantan sang ayah untuk melindungi mereka, yang mereka dapatkan hanyalah sosok rapuh sang sopir. Di kala mereka mendamba cerita-cerita pengantar tidur dari ayah bundanya, yang mereka dapatkan hanyalah film-film kartun di televisi. Sewaktu mereka menginginkan ayah bundanya untuk mendengarnya bercerita, mereka hanya mendapatkan patung-patung bisu yang menghiasi sudut-sudut rumahnya.

Sejatinya, di saat periode emas itulah buah cinta kita paling membutuhkan kehadiran jiwa dan raga kita. Di waktu usia emas itulah buah hati kita sangat memerlukan kecupan dan dekapan mesra kita. Di saat berusia 0-6 tahun itulah lambang cinta kita begitu menginginkan kita untuk mendengarkan mereka berbicara dan bercerita. Sungguh, bagi anak-anak kita tak ada orang yang paling mereka harapkan waktunya selain waktu orang tuanya. Sungguh, tak ada suara yang paling membahagiakan anak-anak kita selain suara orang tuanya.

Karena itu luangkanlah waktu khusus tuk buah cinta kita karena mereka sangat membutuhkannya.

Karena itu bernyanyilah untuk buah hati kita karena mereka sangat memerlukannya.

Karena itu dekap mesra lambang cinta kita karena mereka sangat mendambanya.

Jangan pernah capek untuk bermain-main dengan mereka. Jangan pernah bosan untuk mendengar mereka berbicara dan bercerita. Jangan pernah letih untuk menemani mereka belajar. Jangan pernah lelah tuk memeluk mereka seraya berbisik lirih, “Papa dan mama mencintaimu, nak.”

====================================================
Oleh: Ustazdz Hamy
Sumber: Surabaya Post

Iklan

Tentang emmet24son

My Name is Pirman... Si Pirman
Pos ini dipublikasikan di Personal. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.