Sekolah, Dulu dan Sekarang

Pagi ini lagi-lagi anakku Abiyu, rewel pas mau berangkat sekolah. Komplainnya adalah gak mau olahraga (hari ini hari olah raga di TK anakku, Al-Azhar). Intinya sih, dia nggak mau sekolah.

Sebegitu mengerikannyakah sekolah sekarang ini? Atau ada apa dengan anakku yang malas sekolah? Dulu adikku juga seperti itu, malas sekolah. Demikian ibuku selalu bilang. Walhasil, entah ada hubungannya atau tidak. Adikku putus di penghujung jalan sekolahnya. Skripsi yang (kalau nggak salah) sudah mulai dibuat, ditinggalkan. Alasannya, sudah sibuk kerja.

Akankah anakku seperti itu nantinya? Mudah-mudahan tidak. Bukan apa-apa. Di negeri ini kalau tidak punya selembar kertas yang ada tulisannya I-J-A-Z-A-H, biasanya tidak dianggap oleh orang lain, calon mertua, apalagi perusahaan. Memang sih, skill dan kemampuan jauh lebih penting daripada selembar kertas itu. Tapi yaa, namanya masih numpang di negeri kayak gini, ya mau nggak mau harus tetap ikut “aturan” kan? Entah sampai kapan aturan itu berlaku. Sepanjang masa, mungkin.

Ngomong-ngomong masa, menurutku kondisi saat ini juga kelihatannya membuat anak atau anak sekolah menjadi lebih letoy, ringkih, dan malas.

Dulu, aku sekolah TK tidak diantar orang tua. Hanya tukang becak langganan yang setiap hari setia mengantar dan menjemputku. Dari rumah nenek di Pamoyanan ke sekolah di Jalan Sederhana, Bandung. Orang tuaku ke mana? Mereka lagi sibuk berkelahi di pengadilan ngurusin pengakhiran hubungan yang mereka mulai sendiri. Gimana sih?

SD, aku berangkat pagi-pagi, jalan kaki. Jaraknya sih memang tidak jauh. Paling 3KM saja dari rumah. Sengaja menghemat ongkos supaya bisa nyimpan uang Rp. 200 yang seharusnya dibayarkan ke Mikrolet PP untuk sekadar beli layangan atau jajanan yang menyenangkan untuk ukuran anak SD. Nggak jarang juga aku jual roti bekalku ke teman-teman yang dibekali uang, bukan makanan oleh orang tuanya. Meski sering juga mereka ngutang dan gak bayar. Demi mencari “uang tambahan”, aku sering menjual jasa memberi contekan saat ujian pada temen-temen yang beruntung punya duit tapi kurang beruntung karena isi kepalanya cuma sedikit. SMP juga demikian, tidak jarang aku jalan kaki ke sekolah. Bedanya, berhubung suasana tidak kunjung mengenakkan, isi di kepalaku juga jadi nggak banyak.

SMA, berhubung sekolahku lumayan jauh, aku terpaksa naik Kopaja. Hobi jalan kakiku untuk menghemat sulit dijalankan. Tapi tetap saja, aku berangkat pagi-pagi untuk mengejar Kopaja pertama (biasanya berangkat tepat jam 6 pagi dari pool-nya). Aku nyaris selalu menjadi anak pertama yang tiba di kelas. Lucunya, ketika itu aku merasa sangat nyaman sekali di sekolah. Nggak enak kelamaan nangkring di rumah meski jam sekolah bubar aku langsung segera pulang ke rumah. Tunduk sesuai dengan aturan orangtua yang contoh pasalnya berbunyi: “Pulang sekolah langsung pulang, jangan kelayapan.” atau “Sekolah dulu yang bener, pacaran belakangan.” Tapi terbukti juga, adikku yang melanggar kedua pasal itu, nggak sesukses aku di urusan studinya. Meski sialnya pasal nomor dua itu kadang bikin aku nyesel, mungkin seumur-umur. Tapi tidak apa-apalah, tuhan pasti sudah menyiapkan yang terbaik untukku.

Kuliah, naik angkot. Ayahku membelikan motor ketika aku semester 3. Akhirnya, uang transport sebulan yang sebesar 30 ribu (naik jadi 50 ribu sebulan di akhir-akhir masa kuliah tahun 2000-2001), akhirnya bisa aku simpan 80%-nya. Aku cuma pakai untuk beli bensin saja. Tidak beli makan, tidak beli rokok, tidak jalan-jalan atau semacamnya. Pacaran? Boro-boro. Tapi akhirnya simpanan itu berguna. Sebulan sebelum aku mau bikin skripsi, uang itu bisa ditukar dengan (nyaris) satu unit komputer yang aku rakit sendiri. Kenapa nyaris? Karena aku hanya beli komponen-komponen utama saja yang diperlukan agar komputer bisa bekerja. Beruntung di waktu-waktu senggang Pak De-ku sering memanfaatkan jasaku untuk membantunya di kantornya, Gelora Senayan. Lumayan juga hasilnya. Terima kasih banyak Pak De. Aku jadi bisa beli mainan atau apapun yang orangtuaku tidak bersedia membelikan atau aku tidak tega/malas memintanya pada mereka.

Anak sekarang? Sekolah di antar orang tua atau nenek/tantenya. Minimal suster atau pembantu. Boro-boro jalan kaki ke sekolah, mobil lengkap dengan sopir, atau disopiri orang tua siap mengantar tiap hari. Takut diculik? Mungkin saja. Jaman sekarang meleng sedikit anak bisa lenyap dijual ke luar kota atau luar negeri. Jadi mau nggak mau orang tua setiap hari mengantar, menunggu, dan menjemput pulang. Anak jadi lebih mandiri? Lebih berani? Lebih rajin? Rasanya tidak. Tapi apa mau dikata, daripada anak kesayangan berpindah tangan?

Tugas-tugas, fasilitas dan lain-lain? Anak sekarang rasanya sudah tidak pusing-pusing. Semua sudah disediakan dan tinggal pakai. Anak jadi lebih ulet dan banyak akal? Rasanya juga tidak. Kalau sudah begini, kelihatannya kasihan juga jadi anak sekarang. Nggak salah juga kalau banyak orang tua yang melempar anaknya ke luar negeri untuk sekolah. Supaya semua bisa dia kerjakan sendiri.

Abiyu anakku, mudah-mudahan kamu bisa berhasil dengan usahamu sendiri. Papa yakin kamu bisa, meski papa belum bisa belikan kamu mobil seperti yang orang tua teman-temanmu belikan untuk anaknya. Maaf ya Nak. Papa sayang sama Biyu.

Iklan

Tentang emmet24son

My Name is Pirman... Si Pirman
Pos ini dipublikasikan di Personal. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.